Kamis, 28 Januari 2016

“Quran Kecil Untukmu”




Karya :Icha Yulia Putri
          
      Adzan shubuh telah di kumandangkan,sudah saatnya untukku sebagai seorag laki-laki untuk segera menuju ke rumah allah.
“Azis…zis” ucap tetanggaku.
“aa..iya Dul,mau ke Mesjid juga?”
“iya zis,maka dari tu saya manggil kamu,agar sama-sama kita ke Mesjid”
“ooo ok ok,ayo jalan,sudah mulai khomat ni”
“ayo..”
Saat shubuh telah menyingsing,digantikan dengan waktu dhuha,saya pun mengambil waktu istirahat kerja untuk melaksanakan sholat yang di anjurkan oleh Rasululllah,tak di sangka saat saya masuk ke tempat ibadah yang telah disediakan oleh kantor untuk pekerja yang beragama islam,saat saya melewati pintu saya melihat seorang wanita yang sedang melaksanakan sholat dhuha dengan khusyuk,begitu khusyuk nya saat ia bersimpuh memohon kepada allah,dia meneteskan air mata,saya pun berpikir ntah hal apa yang membuat ia meneteskan air mata seperti itu.
            Tapi apalah daya ku,jika hendak mau ibadah tak boleh menunda-nunda apalagi menunda karena penasaran dengan tangis seseorang yang tidak di kenal,saya pun langsung melaksanakan sholat dhuha tanpa bertanya terlebih dahulu pada waita tersebut.
Untaian do’a telah saya sampaikan kepada allah,hanya tinggal berusaha dan bertawakal akan do’a yang saya sampaikan tadi.Saat saya selesai berdo’a,tak saya kira bahwa waita tadi belum juga selesai dalam do’a nyayang khusyuk tersebut.Saya pun semakin penasaran akan perasaannya sampai-sampai do’a nya,dari saya sholat sampai saya selesai berdo’a belum juga selesai.
Telah tampak oleh ku wanita itu yang telah selesai dalam do’a nya.
Air mata yang mengalir di pipi nya
Telah terhapuskan akan kain putih yang ia bawa sholat
Tampak olehku mata yag sembam
Raut wajah yang penuh dengan kebimbangan
Hendak aku ingin mendekat
Untuk mengajukan untaian pertanyaan
Tapi sontak lidah ku tak bisa mengutarakannya
Karena tak ku sangka
Seorang wanita yang khusyuk beribadah
Saat ia melepas kain putih yang menutupi saat ia sholat
Begitu terkejutnya aku
Bahwa kepalanya tak ditutupi oleh selendang
Tampak rambut yang bergerai
Sepanjang bahu
Sontak membuatku tak jadi bertanya
            Saat itu juga niatku untuk bertanya hilang dan melupakan wanita itu, aku  pun menuju ke ruangan kerja ku,terdengar seorang wanita memanggil-manggil seseorang tanpa nama,tersontak aku melihat ke belakang,ternyata wanita itu adalah wanita yang melaksanakan sholat dhuha tadi.
“Pak…pak” teriak wanita itu.
“Ya…anda memanggil saya”.
“Iya pak,maaf sebelumnya karena saya telah berteriak seperti itu”.
“Tiidak ada apa-apa,maaf anda ada urusan apa ya dengan saya?”
“Ini pak” dengan menyodorkan dompet kulit yang berwarna coklat tersebut”
“Ha..ini kan dompet saya” dengan ekspresi yang penuh tanya.
“Ooo berarti dugaan saya benar,saya menemukannya di tempat ibadah dan saat melihat dompet tersebut,saya juga melihat bapak di pintu keluar dan berlalu pergi,sontak saya mengejar bapak,dan memanggil bapak dengan berteriak”
Tidak ku sangka wanita ini tidak hanya khusyuk dalam beribadah tapi juga hatinya yang penuh dengan kebaikan.
“pak” panggil wanita itu
“pak..” panggil wanita itu kembali
“ah..iya,kamu bilang apa tadi?”
“aaaa…tadi saya bilang”
“ooo saya baru ingat” potong ku dengan sedikit galagapan
“terimakasih ya,karena telah mengembalikan dompet saya ini” timpalku
“iya sama-sama pak,bukankah setiap muslim harus saling menolong”
“hmm iya benar,pokoknya saya mengucapkan banyak-banyak terimakasih,o iya saya belum mengetahui nama kamu siapa”
“nama saya Zahra Rahmawati,bapak boleh manggil saya Zahra” dengan senyuman tipis di wajahnya.
“hmm Zahra,nama yang bagus,perkenalkan nama saya Azis Al Sidiq,Zahra bisa manggil saya dengan sebutan Azis”
“a..iya pak Azis”
“tidak usah nama panggilan saya di depannya di tambah sebutan pak,cukup Azis saja,toh saya tidak tua banget,hehehe”
“hehehe,iya pak..upss i..ya A..zis” jawab Zahra dengan gelagapan.
“hmm..karena kamu telah melakukan kebaikan kepada saya,saat makan siang nanti saya akan menaktir kamu makan,gimana?gak menganggu kan?”
“saya melakukannya ikhlas kok,gak harus dibalas juga,Zahra orangnya gak suka pamrih,jadi gak usah lah,saya bisa makan di kantin aja, kan kantor ini juga menyediakan kantin bagi pegawai nya,gak kok Zis”
“hmm ok,anggap aja ini hanya sebuah taktiran karena kita baru kenalan bukan karena Ra menolong Zis tadi,bisa kan?”
“mmp..ok lah”

Inilah waktu yang di tunggu-tunggu oleh seorang Azis Al Sidiq waktu dimana ia akan makan siang di Restoran bersama Zahra yang membuatnya tadi pagi penasaran akan hal yang Zahra tangisi tadi..
“silahkan duduk” ucap Azis
“mm..iya”
Mereka pun memesan makanan sesuai selera mereka,saat mereka menyelesaikan makan siang mereka,Azis pun memberanikan diri untuk bertanya pada Zahra akan hal yang ia tangisi.
“Ra,Zis boleh Tanya sesuatu’
“i..ya boleh,apa itu Zis?”
“tadi di saat dhuha aku melihat mu berdo’a sambil menangis tersedu-sedu sangat lama sekali,sehingga membuatku penasaran akan hal yang kamu tangisi sampai selama itu,maaf jika itu termasuk urusan pribadi mu,jika kamu tidak mau menjawabnya tidak apa-apa”
“iya..tidak apa-apa Zis,yang membuatku menangis itu di karenakan aku masih bimbang akan permintaan terakhir dari ibuku”
“permintaan seperti apa yang di ajukan ibumu kepadamu,sampai-sampai membuatmu bimbang untuk melakukannya”
“ibuku memintaku agar aku memakai jilbab,tetapi aku belum siap untuk melakukannya”
“Zahra memakai jilbab tidak perlu kata siap atau tidak,karena memakai jilbab adalah kewajiban setiap wanita,sebenarnya ibumu sudah terlambat menyuruhmu untuk memakai jilbab,tapi apalah daya ku,aku bukan Allah yang bisa menentukan terlambat atau tidaknya seseorang untuk berubah menjadi yang lebih baik,jadi lebih baik kamu segera menutupi aurat mu”
“tapi Zis,Ra sedikit ragu tuk melakukannya”
“alasan apalagi yang membuatmu ragu,selain dari kata belum siap?”
“aku takut pegawai kantor yang lain bertanya-tanya tentang perubahanku atau jangan-jangan mereka akan menertawakanku”
“tunggu sebentar Zahra,aku akan kembali dengan membawa sesuatu yang membuatmu yakin dan merasa bersalah karena telah ragu akan berhijab”
“Azis mau kemana”
“tunggu sebentar Ra,aku akan kembali,tunggu saja”
Dengan berlari Azis pergi ke tempat yang ia akan menemukan sesuatu yang tak kan membuat Zahra ragu akan permintaan ibuya.
10 menit kemudian…Azis kembali ke restoran yang mana Zahra menunggu kedatangannya,Azis membawa sebuah kantong lalu menyodorkannya pada Zahra.
“apa ini” sambil menatap Azis.
“lihatlah apa isinya”
Kemudian Zahra membukanya,dia pun bertanya-tanya didalam hati
“kenapa Azis memberiku Al-Quran kecil,maksudnya apa”
Zahra pun tersontak kaget akan perkataan Azis yang menjawab pertanyaan dari hati Zahra.
“yaa itu adalah Quran kecil untukmu,itulah sesuatu yang tidak akan membuatmu ragu lagi untuk melaksanakan permintaan ibumu”
“dengan apa Al- Quran ini akan membuatku memakai hijab?’
“bukalah Al-Quran itu dengan bismillah lalu lihatlah surat An-Nur ayat 31”
Zahra pun mencari surat An-Nur ayat 31 lalu menjumpai suratnya.
“aku menemukan suratnya”ucap Zahra
“bacalah terjemahan suratnya”jawab Azis
Zahra pun membacanya,terjemahan surat tersebut berisikan.
“Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman: ‘hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhisannya kecuali yang biasa Nampak dari padanya.Dan hendaklah mereka menutupkan jilbabnya ke dadanya”
Wanita yang berada di depanku ini matanya mulai berlinang.Aku hanya ingin membuatnya sadar bahwa berjilbab itu wajib bagi seorang wanita walaupun itu akan membuatnya menangis dan menyesal itu aku lakukan demi kebaikannya sendiri.
“apalagi yang kamu ketahui Azis”dengan suara yang menahan tangis
“aku pernah membaca sebuah cerita tentang Imam Ali dengan Rasulullah,pada saat itu Imam Ali as berkata’saya dan Fatimah menghadap Rasulullah dan kami melihat beliau dalam keadaan menangis tersedu-sedu dan mereka pun berkata pada beliau’Demi ayah dan ibuku sebagai jaminanmu,apa yang membuat anda menangis,tersedu-sedu’ucap Ali.Rasulullah bersabda “wahai Ali pada malam mi’raj ketika aku pergi ke langit,aku melihat wanita-wanita umatku dalam azab dan siksa yang sangat pedih sehingga aku tidak mengenali mereka.Oleh karena itu,sejak aku melihat pedihnya azab dan siksa mereka ,aku menangis’.Itulah salah satu yang aku ketahui,masih banyak lagi dalil-dalil mengenai wajibnya wanita memakai hijab” jawab Azis.
            Azis pun berhenti bicara tampak olehnya wanita itu menahan tangis yang luar biasa.
“keluarkanlah semua yang ada dihatimu,jagan ditahan karena itu akan menimbulkan penyakit hati yang mendalam,keluarkan semuanya,menangislah sepuasnya”
Zahra pun menuruti perkataan Azis,ia menangis sejadi-jadinya,air mata terus mengalir di pipinya.
“Sungguh bodohnya aku Azis karena ragu akan perintah Allah,aku malu Azis karena tahu baru sekarang, itu pun karena aku jarang membaca Al-Quran,aku lebih sering sholat dari pada mengaji,lihatlah apa yang aku lakukan selama ini aku akan sama seperti wanita yang dilihat oleh Rasulullah yang mendapatkan azab yang pedih,sungguh dosa besar yang telah aku perbuat”
Zahra pun berlari sambil menagis,ia menutupi kepalanya dengan tas berwarna silver yang ia pakai tadi.
“mungkin penyesalan telah ia rasakan sekarang ini,mudah-mudahan besok ia telah berubah menjadi wanita yang sholehah dengan lilitan jilbab yang menghiasi kepalanya”
Pagi telah datang bersamaan dengan harapan Azis akan Zahra,apakah ia telah berubah,yang benar saja seorang wanita yang tampak beda dengan lilitan jilbab putih yang menutupi hal yang sesungguhnya tak terlihat,wajahnya terlihat begitu cantik,anggun dengan pakaian tertutup sungguh dia seperti bukan Zahra yang aku kenal kemaren.
“Assalamu’alaikum”ucap Zahra
“Wa’alaikum salam” jawab Azis
Azis menatap Zahra tanpa henti,membuat Zahra salah tingkah,Zahra pun mencoba menghentikan pandangan Azis dengan berkata “jagalah pandangan mu Azis karena aku bukanlah istrimu yang sesuka hatimu untuk kamu pandang”
“astaghfirullah sungguh aku tak sengaja Zahra,engkau telah membuatku terpesona akan perubahanmu”
Zahra hanya tersenyum mendengar perkataan Azis.
“Ra,aku tahu bahwa kita baru kenal kemaren,tapi sungguh aku tidak mau mendapatkan dosa karena aku selalu memandang yang bukan mukhrim ku,oleh karena itu mau kah engkau mencegah agar aku tak mendapatkan dosa itu”
“apa yang harus aku lakukan Zis”
“cukup engkau menjawab iya”
“iya untuk apa”
“untuk setuju aku menikahimu”
“Zahra pun tersenyum lalu mengangguk pelan”
“apakah iya” Tanya Azis
“iya,aku setuju”

Besoknya mereka pun menikah…itu dikarenakan Azis tidak mau lama-lama karena itu akan membuatnya khawatir akan dosa yang akan menimpanya  nantinya.Mereka pun menikah dengan sederhana,ucapan terimakasih yang tidak henti-hentinya Zahra ucapkan kepada suaminya karena telah memberikan Al-Quran kecil yang membuatnya sadar akan kewajibannya bagi seorang wanita untuk menutupi aurat dengan memakai hijab.

#the end
Share:

0 komentar:

Posting Komentar